Pray for Luwu

Harga Melambung, Petani Kakao Genjot Produksi, Pupuk Non Subsidi Ini Diburu

$rows[judul] Keterangan Gambar : Kamsar Musa (Kanan Kostum Warna Merah), saat berbincang dengan PU kliknusantara.com, Hikma Ma

TOLITOLI, Kliknusantara.Com| Harga komoditi Kakao di Indonesia melambung lampaui angka Rp. 100.000 per Kg. Termasuk di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Bahkan pada Bulan Maret - April, sempat tembus hingga Rp. 185.000/Kg. Harga tersebut jauh dari Slsebelumnya hanya kisaran 20.000 hingga 30.000 per Kg coklat kering permentasi.


Tingginya harga komoditi bahan baku pangan dari coklat itu membuat petani bersemangat merawat kebun kakao lebih intens. Bahkan berusaha agar tanaman tahunan itu bisa berproduksi lebih banyak dari biasanya. 

Upaya petani kakao genjot produksi itu memicu naiknya permintaan bahan-bahan saran produksi pertanian lainnya, semisal racun hama (insektisida), racun gulma (herbisida) dan terutama pupuk pokok berbasis NPK. Tentu hukum ekonomi berlaku disini. Tingginya permintaan pupuk, harga pun dipastikan ikut naik. 

Dapat dideteksi tingginya permintaan pupuk, untuk merek tertentu di pasaran Kabupaten Tolitoli sangatlah tinggi. Pupuk non subsidi diburu petani sebagai faktor utama peningkatan produksi.

Jelas berkah bagi petani kakao ini turut memberi berkah kepada pemasok pupuk Non subsidi bermerk di Kota Cengkeh ini khusunya pupuk bermerk seperti merk 'mahkota' atau pupuk sejenis produksi Petrokimia dan lainnya. 

Kamsar Musa, salah seorang pemasok pupuk Non Subsidi yang beralamat di Desa Tinigi Kecamatan Galang, kepada media ini menuturkan dirinya kecipratan berkah darin lonjakan harga Kakao. Ia mengungkapkan lonjakan permintaan pupuk dari petani belakangan ini memang bukan isapan jempol. 

"Permintaan sangat tinggi saat ini. Kami pasok ke petani, terutama untuk kakao dan cengkeh,' tuturnya. 

Pemilik Toko Azzuhri itu mengaku pasokan pupuk diperoleh langsung dari pabrik di Jawa Timur melalui Surabaya. Bahkan tidak hanya satu merek, karena menurutnya yang non subsidi tidak banyak persyaratan. 

"Pupuk non subsidi pak, bebas saja tidak banyak persyaratan. Kalau yang subsidi pemerintah, ribet," ungkapnya kepada pimpinan umum media ini yang baru tiba dari Jakarta, saat mengunjungi Kantor Biro Tolitoli, Minggu (19 Mei 2024).

Disinggung patokan harga dan keuntungannya sebagai pasok, Kamsar mengaku tidak berlebihan. Ia mematok keuntungan sewajarnya meski permintaan mengalami lonjakan. Namun ia tak menutup mata jika ada beberapa rekannya mematok keuntungan tinggi hingga 60.000 setiap karung ukuran 50 Kg. 

Kamsar menyebutkan untuk pupuk jenis ZA saja saat ini sudah tembus di angka 350.000/zak ukuran 50 Kg. Beberapa waktu lalu harga itu masih kisaran 250.000/zak. Beberapa faktor penyebabnya, selain permintaan tiba-tiba dan langkah bahannya, juga karena ada perubahan harga dari pabrik. 

"Kalau saya menyesuaikan kemampuan petani juga harga itu. Asalkan sudah ada untung sedikit. Kasihan juga petani kalau dibebankan harga tinggi," imbuhnya. 

Menjawab alasan dibalik tingginya animo petani kakao buru pupuk non subsidi ini, Kamsar mengatakan jika pupuk itu memiliki keunggulan yang telah dibuktikan sendiri oleh petani. 

"Memang ada kelebihannya dan petani sudah buktikan sendiri. Selain kadar unsur kandungan dalam pupuk itu lebih tinggi dalam dalam ukuran yang sama. Kalau yang subsidi misalnya Urea, itu unsurnya tinggal, hanya Nitrogen. Kalau ZA, selain Nitrogen ada unsur Sulfur sekian persen. Begitu juga lainnya," urainya mencontohkan. 

Mengikuti kualitas pupuk, menurut sosok yang sehari-hari bergerak dengan mobil box tersebut berbanding lurus dengan harga, dimana jauh lebih tinggi. Untuk itu kata dia, pupuk jenis ini lebih banyak digunakan untuk komoditi pertanian fengan harga tinggi seperti cengkeh, kelapa dan kakao saat ini. 

Mengkonfirmasi hal ini, salah seorang petani kakao di Tolitoli, Sappe mengamini uraian Kamsar Musa. Sappe mengaku sudah terbiasa menggunakan pupuk non subsidi tersebut. Katanya lagi, sudah familiar dengan pupuk bermerk Mahkota tersebut. 

"Tidak apa lebih mahal tapi hasilnya maksimal. Belum lagi mudah diperoleh. Kalau yang subsidi, hasil tidak memuaskan, belum lagi banyak syaratnya," ujar Sappe yang saat itu kebetulan sedang bertransaksi pupuk dengan Kamsar. 

Warga Desa Ogowele Buga, Kecamatan Dondo ini adalah salah seorang petani yang ketiban berkahnya harga kakao. Ia mengaku tak menyangka jika Kakao yang selama ini hanya berkutat di harga 25.000/Kg, bisa mencapai harga saat ini. 

Diketahui, harga tinggi bahan baku pangan coklat itu yang tiba-tiba saja melonjak jadi berkah bagi petani Kakao di Kakbupaten Tolitoli. 

Dari informasi yang berhasil dihimpun, sejumlah petani yang memiliki kebun kakao mendapatkan penghasilan yang berkali lipat dari sebelumnya. Sejumlah petani kakao yang memiliki kebun agak luas dapat penghasilan yang mencapai Ratusan Juta Rupiah. Bahkan ada yang langsung inden mobil yang lagi Hits di masyarakat Tolitoli. 

Penghasilan petani kakao yang mendadak melonjak itu, nampaknya berbanding lurus dengan kebutuhan pupuk yang lebih berkualitas meski harga lebih di atas. Harga komoditi kakao saat ini lebih dari cukup untuk menutupi tingginya harga pupuk non subsidi. Tak heran pupuk ini diburu para petani kakao Tolitoli.... ****

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)