Pray for Luwu

Mitos Pemerataan Kemakmuran Dalam Perspektif Ibnu Khaldun

$rows[judul]

Oleh: 

Syahrul E. Dasopang (Pengamat Budaya Melayu / Mantan Ketua Umum PB. HMI) 

MERATAKAN kemakmuran. Memenuhi janji kemerdekaan untuk kesejahteraan rakyat. Sosialisme, sama rata sama rasa. Mengurangi jumlah kemiskinan. Adil makmur.

Percayalah semua itu hanya omong-kosong. Retorika kosong melompong. Utopia. Semacam gula-gula. Bahasa sihir bagi rakyat yang bodoh. 

Yang benar adalah rebut bagianmu dengan cara bagaimana pun yang kau bisa. Tak akan ada yang berbelas kasih akan memberimu secara cuma-cuma kesejahteraan itu. Bahkan kau bekerja keras sekalipun untuk merampas hakmu untuk sejahtera, belum tentu ada jaminan engkau akan memperoleh kesejahteraan. Apalagi cuma bermalas-malasan dan tercenung meratapi nasibmu.

Sebagaimana Ibnu Khaldun menguraikan bahwa kemewahan itu hanya berputar pada golongan yang merebut kekuasaan. Adapun di luar golongan mereka, hanyalah sisa-sisa dari kemewahan yang mereka reguk. Ketahuilah, menurut Ibnu Khaldun, kemewahan diperoleh dari kekuasaan. Kekuasaan diperoleh dari perjuangan dengan modal fanatisme kelompok atau ashobiyah. Ashobiyyah inilah biang kerok dari tidak mungkin terjadinya pemerataan kemakmuran. Sebab kemakmuran dan kemewahan terlebih dahulu dihabiskan oleh golongan yang berkuasa dan melayani keinginan dan hasrat untuk menikmati kemegahan dengan sesama mereka dari jerih-payah merebut kekuasaan yang mereka lakukan.

Itulah sebabnya, pemerataan sampai langit runtuh sekalipun tidak akan terjadi sebelum golongan yang berkuasa bosan dengan kemewahan yang mereka peroleh atau kekuasaan beralih ke tangan golongan baru yang berhasil mengalahkan mereka. Tapi apa mungkin ada manusia yang bosan dengan kekuasaan? 

Maka selagi golongan yang berkuasa mereguk kemewahan dan kemegahan, segolongan lain yang tidak terkait dengan golongan tersebut akan menghadapi takdirnya sebagai objek perahan dan tawanan bagi golongan yang berkuasa. Rakyat yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan tiada nasibnya kecuali sebagai perahan dan tawanan dari organisasi kekuasaan.

Itulah rumusnya berdasarkan sari pemikiran Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah-nya.

~ SED

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)