Hari Bhayangkara

Subversifnya Pikiran Pak Kirmo

$rows[judul]

Oleh: 

Syahrul E. Dasopang (Pengamat Sosial dan Kebudayaan Melayu / Mantan Ketum PB HMI) 

DI suatu pagi, di Warmindo yang baru saja buka. Dua gelas kopi mengepul panas. Aromanya merangsang imajinasi. Pak Kirmo sudah tak sabar memulai perbincangan. Sedangkan aku, masih sibuk menscroll tampilan isi WA.

"Aku kok bersyukur, ya, dengan kehebohan kabar tambang ormas dan buntut penarikan isi rekening jumbo ormas di BSI?" ujar Pak Kirmo mengetuk reaksiku.

"Kok, bisa?". Tentu saja aku tidak membiarkan harapannya agar aku mereaksi, luput. Aku bagaimana pun menganggapnya sebagai teman bercakap yang gila kritisnya. Namun aku suka juga.

"Memang Allah Maha Tahu, Maha Lembut dan Maha Cermat."

"Opo meneh, Iki?"

"Coba bayangkan. Dari peristiwa itu, dan statement para pentolan ormas yang katanya mengurus umat Muhammad Saw di Indonesia ini, terbukalah kedok dan hakikat isi rasa dan asa para elit pengurusnya." Pak Kirmo mulai sintingnya.

"Aku rak mudeng." Jawabku.

"Kamu nggak perhatikan ketika mereka menanggapi pemberian tambang. Bosnya bilang, 'Kami butuh, kok. Butuh revenue.' Itu ideologinya," ucap Pak Kirma sedikit keras.

"Mendapatkan uang besar dari pemberdayaan pengaruh ormas. Jadi memang kecenderungannya cari kekayaan, pengaruh, tapi memanfaatkan umat Muhammad ini." lanjutnya.

"Ooo alah, aku baru ngeh yang sampean maksud. Ya memang begitu. Namanya juga manusia. Ah....manusia sekarang mana ada yang tidak ngejar kekayaan, Mas." Kataku menyela kesimpulannya.

"Jadi memang kesannya, umat ini diternakkan oleh mereka untuk mengejar bargaining dan konsesi-konsesi politik dan ekonomi. Kekuatan mereka di jumlah peternakan umat hanya buat dipamerkan, ditawarkan, dibargainingkan dan diperdagangkan."

"Ada benarnya, juga. Aku rak bantah." Kataku dengan harapan dia berhenti mengkritik pemimpin-pemimpin umat yang agung dan anggun-anggun itu.

"Nah, ormas yang satu lagi, memang dia tidak concern beternak umat. Memperbanyak jumlah umat. Dia concernnya memperbanyak perusahaan-perusahaan penggemukan dan susu perah. Kalau yang pertama, buat dijual ternaknya bulat-bulat. Nah yang satu ini, kualitas ternaknya sudah ditingkatkan dan produk olahannya lebih beragam. Ada susu, daging olahan, atau daging segar yang sudah diseleksi buat didrop ke berbagai penyuplai kedua. Maka concern mereka ya...di usahanya yang beragam dan banyak itu. Bukan di umatnya. Lucunya, mereka kurang tinggi kasi upah ke pegawai-pegawai yang mengurusi usaha penggemukan ternak mereka. Hasil dari usaha itu, bukannya disedekahin buat umat, tapi ditumpuk lagi, diputar lagi, hingga menggunung yang membuat mereka bingung. Menurutmu, analogiku ini, kasar, nggak?" Mulai Pak Kirmo membabat apa saja.

"Bagi saya, biasa aja, sih." Aku sudah tahu maksudnya bahwa kritikannya itu dialamatkan ke ormas yang kumasuki.

"Sekarang coba, mereka kesal umatnya yang tidak terperhatikan dan banyak yang keteteran, ya...jangan salahkan bila ditangkap dan diasuh oleh mazhab disiplin tubuh perempuan, imporan dari Saudi Kontemporer. Mereka mencak-mencak, ada MuSa. Kalau yang pertama, sudah duluan ribut, tapi sekarang ributnya bergeser ke Habaib. Mungkin sudah main mata antar mereka berdua. Supaya bagi-bagi tugas. Lu hantam MuSa. Gua hantam Ba'alawi. Supaya hanya kita berdua yang sah dan berhak meraup sumber-sumber kekayaan, jabatan dan pasar di negara ini."

"Trusss, piye?" susulku atas celotehannya yang hampir bikin ayam jantan berhenti berkokok itu.


"Yah....mazhab disiplin tubuh yang janggutnya mirip sarang lebah ini, juga tidak bodoh. Mereka terus bergerak. Karena mereka tahu, ada ceruk pasar yang ditelantarkan ormas-ormas tua itu, yang siap membeli jualan ide dan layanan mereka. Ibarat sisa-sisa tambang konsesi KPC, Adaro, dll yang dioper buat ormas, begitulah mazhab imporan dari KSA ini ngiler menangkap peluang. Walaupun mereka tidak melembagakan diri sebagai ormas."


"Sek...sek...sek...Koe kok, jeli ngene, yo?" pancingku.

"Mazhab yang concern kontrol dan disiplin tubuh, khususnya tubuh perempuan ini, memang disukai para suami dan bapak-bapak kaya yang hidupnya tadinya liar berbahan bakar nafsu syahwat. Mereka pendek saja urusannya, bagaimana istri-istri mereka dapat dikontrol, dibatasi ruang geraknya, dan didisiplinkan, agar mereka di luar tidak hawatir istrinya keluyuran kemana-mana. Dari pada maennya di kafe atau habiskan uang di mall, mending pengajian dengarin mana yang boleh mana yang tidak boleh bagi seorang istri atau anak gadis. Yang sebenarnya kehawatiran yang menggelayuti hati mereka adalah kenyataan diri mereka sendiri yang liar dan ganas itu, akan ditiru oleh istri maupun anak-anak perempuan mereka. Maka ruang pergaulannya dipersempit dengan lingkaran pengajian-pengajian yang didoktrin oleh yang janggutnya bak sarang lebah dan ummi yang tidak tampak ujud wajahnya. Sebagai suami, tentu lebih nyamanlah bila istrinya tidak liar. Apalagi di zaman ramai selingkuh, nyeleweng dan serong sekarang ini, mendorong istri atau anak perempuan tergabung dalam kelompok-kelompok disiplin tubuh berkedok sunnah tersebut, akan lebih melegakan. Makanya ajarannya bias maskulin dan rada-rada mengetatkan ruang gerak perempuan. Nah, golongan masyarakat modern level kelas menengah yang kewalahan menghadapi ekses kehidupan kantor yang tidak menenangkan dan memompakan rasa was-was dengan bebasnya kehidupan pergaulan antar lawan jenis, tawaran dan solusi layanan mazhab disiplin tubuh dari KSA ini dapat menjadi alternatif." Panjang lebar Pak Kirmo mempreteli kimono mazhab disiplin tubuh versi Islam.

"Bagaimana pendapatmu dengan kelompok yang dulunya juga dakwahnya berefek disiplin tubuh perempuan, tapi bergeser menjadi partai sekarang ini?" Aku menggeser sorotannya. Salafi melulu yang dikulitinya. Padahal saya suka juga dengan perempuan-perempuan mazhab salafi bercadar yang tertutup wajahnya, walaupun kadang-kadang di antara mereka matanya mendelik juga jika melihat panorama yang menarik selayaknya naluri perempuan.

"Seiring dengan meningkatnya kemakmuran yang mereka peroleh dari hasil-hasil jabatan dan politik, kini mereka mengalami relaksasi dari disiplin tubuh dan bahkan mulai meninggalkannya. Istri-istri mereka sudah berani dan gemar geol-geol walaupun judulnya senam. Ustadz-ustadnya sudah meninggalkan janggut lebat seperti sarang tawon berganti dengan klimis, topi baseball serasa lupa umur. Tapi kelakuan koleksi istri tidak tertinggalkan. Mereka juga sudah tidak ngurusin umat-umat yang tercecer dan galau oleh kerasnya hidup di zaman ini. Ngurusin jadwal aktivitas politik praktis dan pileg saja, sudah menguras energi dan cadangan waktu mereka. Jadi, mereka tidak ambil peduli dengan urusan umat yang tercecer, apalagi yang kismin-kismin. Sekolah-sekolah mereka rata-rata mahal dan semacam disengaja untuk menyeleksi basis suara efektif bagi partai mereka."

"Jadi kesimpulannya, apa menurut sampean?" kataku, dengan maksud, sudahlah...entar modar pihak-pihak yang Pak Kirmo kritik.

"Semua pihak yang kita bincangkan di atas itu, aslinya pengejar kekayaan dan duniawi. Cuma sialnya menunggangi dan memanipulasi warisan agung, ajaran dari Rasulullah Saw dan ratusan juta umat yang polos. Ya Allah, kami berlindung dari syetan yang terkutuk beserta pengikut-pengikutnya yang bertubuh manusia."


Bengong saja saya jadinya dengan kesimpulannya itu. Kupikir daripada bengong lebih baik kuseruput hidangan kopi dan bakwan yang masih hangat.... 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)